Sehari Bersama Rimba

Standar

“Kenapa Ayah lebih mementingkan tumbuhan-tumbuhan itu dari pada aku?” sungutku.

“Galuh, apa maksudmu? Spesimen itu sangat penting bagi kelangsungan hidup kita, hidup manusia nanti!”

Perasaanku semakin tak tertahankan lagi melihat Ayah membentak dan hampir menamparku. “Baiklah, mungkin sebaiknya Galuh menyingkir dulu dari sini sampai pekerjaan Ayah dengan tumbuh-tumbuhan itu selesai.” Tekadku sudah bulat. Segera kutekan tombol merah di atas keyboard.

“Galuh, mau ke mana kau, Nak?” Ayah berlari hendak menahanku. Namun terlambat. Cahaya biru telah memenuhi ruangan dan… aku tidak berada di rumah lagi.

Tiba-tiba saja aku jatuh di sisi jalan tak beraspal penuh lalu lalang truk. Aku berada di tempat yang sangat asing dan aneh. Nampak seperti sebuah desa. Ada rumah-rumah kecil beratap sirap, mobil-mobil kuno, dan yang lebih anehnya lagi ada banyak tanaman di pekarangan setiap rumah.Tanaman-tanaman itu menarik perhatianku. Tak ada jenis tumbuhan yang kukenal kecuali mawar, bunga yang diberikan Okka kekasihku di hari ulang tahunku beberapa minggu yang lalu. Aku belum pernah melihat begitu banyak tanaman dalam satu tempat seperti ini sebelumnya. Benar-benar indah. Mengagumkan!

Kemudian tiga buah bis datang dan berhenti di depanku. Kepulan asap knalpot dan debu yang beterbangan membuatku terbatuk. Menurutku bis ini seperti buatan tahun 2000-an. Dugaanku tidak meleset terlalu jauh, notebook generation III-ku menunjukkan angka 2003! Aku sudah mundur empat dekade dari waktu tujuanku semula! Bagaimana ini?

“Galuh! Rupanya kamu ingin membuat kejutan ya?” Seorang laki-laki muda berusia sekitar sekitar 20 tahun yang baru saja turun dari bis terdepan memanggilku.

Aku terlonjak. Siapa orang ini? Bagaimana ia bisa tahu namaku?

Si pria berlari menghampiri.“ Hei, kok malah bengong?”

Wah, aku harus jawab apa ya? Aku bingung, nih. “Kamu siapa?” tanyaku ragu.

Laki-laki itu malah tertawa. “Jangan bercanda kamu. Aku ini kan Rimba. Kak Rimba,” sahutnya.”Katanya kamu tidak ingin ikut pengamatan untuk konservasi ke sini. Tidak tahunya kamu sudah muncul duluan. Bagaimana sih?”

“I… iya.” Lantas akupun nyengir seperti kuda. Bagaimana pun dia tak boleh tahu aku dari masa depan.

“Dasar cewek, keinginannya susah dimengerti,” ejek Rimba diikuti dengan juluran lidah.

Aku nyegir lagi.

“Sudahlah. Lihat! Rombongan yang lain sudah mulai memasuki kawasan hutan lindung.” Rimba menunjuk ke arah utara tempat di mana gerbang masuk berada. “Ayo ke sana.”

Serta merta Rimba menarik tangan kananku. Karena masih bingung, aku tak kuasa menolak. Kemudian tanganku yang lain mencoba untuk meronggoh sesuatu dalam saku. Notebook-nya masih aman.

Kami memasuki hutan lindung berama-sama dengan rombongan pelajar yang lain. Sungguh suatu pemandangan yang amat mengejutkan. Di zamanku, tahun 2049, pohon-pohon tinggi seperti yang kutemui di sini amat jarang ditemui. Semuanya hampir punah dan tidak ada yang tumbuh dengan bebas. Aku teringat Ayah yang sering membawa spesimen tumbuhan langka dalam tabung kaca khusus ke rumah untuk diteliti kemudian dikembangkan. Kurasa manusia yang hidup di zaman ini tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka tanpa keberadaan tumbuhan-tumbuhan ini. Namun di tempat asalku, teknologi tinggi sudah dapat menggantikan posisi esensial tumbuhan. Walaupun begitu, biaya yang harus dikeluarkan cukup tinggi. Bayangkan, untuk bernapas saja kita harus membayar! Bagaimanapun juga hidup berdampingan dengan alam adalah yang terbaik.

“Wow, luas sekali!” gumamku penuh kekaguman.

Tak kusangka ternyata Rimba mendengar perkataanku. “Luas bagaimana maksudmu? Hutan lindung ini luasnya hanya seribu hektar. Hanya nol koma sekian saja dari luas Pulau Jawa. Sepuluh tahun lagi mungkin hutan ini akan musnah dan anak-cucu kita takkan bisa menikmati keindahannya lagi. Mengkhawatirkan sekali, ya?” kata Rimba.

Aku mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Rimba ada benarnya. Buktinya di zamanku, aku belum pernah menikmati alam seleluasa ini.

“Eh, coba lihat itu!” Rimba mengarahkan telunjuknya ke arah sekelompok primata yang tak sengaja melewati tempat itu. “Saudara-saudaramu lewat, tuh!” candanya.

“Enak saja!” Kepalanku melayang hendak meninju bahu kirinya. Tapi… sialan, dia berhasil mengelak.

“Kamu tahu tidak itu monyet jenis apa?”

Aku mengangkat bahu dan pura-pura tersinggung.

“Jangan marah, dong,” bujuknya. Mimik wajahnya seketika menjadi panik. Lucu sekali.

Karena tak kuasa menahan lebih lama lagi tawaku pun meledak. “Aku tidak marah, kok.”

Wajah Rimba bersemu malu. “Sudah! Sekarang dengarkan penjelasanku. Monyet-monyet tadi termasuk dalam spesies monyet ekor panjang atau dalam bahasa ilmiahnya Macaca fascicularis. Oh ya, tidak hanya monyet jenis itu saja yang tinggal di sini tetapi juga ada lutung atau Tracypithecus auratus. Populasi mereka selalu menurun setiap tahunnya. Lama-kelamaan mereka bisa punah. Tidak jarang ada orang yang sering memperjualbelikan hewan itu sebagai peliharaan. Padahal itu kan berbahaya. Mereka bisa menularkan berbagai penyakit kepada manusia karena sifat genetis kita berdekatan. Apa kau mengerti?” lagaknya bagai seorang guru.

“Tak kusangka kamu pintar juga.”

“Oo, tentu saja”

“Kasihan monyet-monyet itu. Karena hati manusia yang lapar akan kekuasaan dan kekayaan mereka harus menanggung akibatnya. Mereka kehilangan hutan sebagai rumahnya, kehilangan makanan dan air bersih. Kemudian lama-kelamaan mereka akan habis hilang ditelan bumi. Bagaimana sih caranya supaya manusia-manusia serakah itu sadar?” umpatku kesal.

“Pendapatmu tidak sepenuhnya benar,” timpal Rimba. “Manusia juga terdesak oleh kebutuhan hidup yang tidak sedikit untuk dapat terus bertahan hidup. Hutan memberikan apa yang manusia butuhkan. Tuhan sudah mengaturnya demikian. Hanya saja, kuakui cara kita –manusia- memanfaatkannya belum tepat.”

“Kau tahu? Akan menyedihkan sekali apabila generasi-generasi penerus kita tidak bisa mendapatkan warisan kekayaan alam ini yang tidak ternilai harganya… “

“Ya, benar. Aku tak akan membiarkan anak-cucuku tidak kebagian jatah warisan,” tekadnya.

Sepanjang perjalanan kami terus mengobrol. Tak terasa kami sudah berjalan sangat jauh dari gerbang utama. Aku dan Rimba akhirnya kelelahan juga setelah lama berjalan menapaki jalan kecil dalam hutan yang curam dan berbatu-batu. Rimba memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sungai. Kulihat ia meneguk air sungai itu tanpa ragu-ragu.

“Apa tidak berbahaya meminum air yang belum dimasak? Apalagi air dari sungai,” aku memperingatkan.

Rimba tersenyum. “Rasanya segar. Mau mencoba?” tawarnya.

Aku menggeleng.

“Jangan takut. Kamu melihat ganggang hijau itu? Ganggang hijau merupakan salah satu indikator yang membuktikan bahwa air yang menjadi media pertumbuhannya masih bersih. Berbeda dengan sungai yang ada di kota, kamu pasti jarang melihat ganggang seperti ini tumbuh di sana.”

Mendengar penjelasannya aku menjadi tergoda untuk mencicipi air sungai itu. Bukan apa-apa, aku memang sudah tidak tahan lagi kehausan sejak tadi.

Tak terasa hari hampir sore. Rasanya waktu singkat sekali. Banyak hal-hal baru yang aku dapatkan ketika mengobrol dengan Rimba. Masalah lingkungan memang tidak akan habis dibahas dalam waktu sehari.

“Hampir jam 5 sore, nih. Kita harus segera kembali ke tempat bis diparkirkan. Nanti kita bisa ketinggalan bis,” kata Rimba.

Hatiku tiba-tiba merasa sedih. Aku senang berada di sini. Lagipula Rimba orang yang sangat baik. Aku suka padanya.

“Kak Rimba membawa kamera kan? Kita berfoto dulu, deh! Bagaimana?”

Ia setuju. Rimba mengambil kamera polaroid dari tas ranselnya yang besar itu.

“Siap? satu… dua… tiga!” Blitz pun menyala. Kami berfoto berdua. Lalu sehelai kertas muncul dari dalam kamera. Rimba menarik dan mengibas-ngibaskannya.

“Wah, fotonya bagus juga, ya? Sekali lagi, yuk?” Lampu blitz untuk kedua kalinya menyala. “Ini satu untukmu dan satunya lagi untukku. Untuk kenang-kenangan.” katanya. “Sekarang ayo kita pergi!”

Mataku tiba-tiba tertuju pada sesuatu. Pohon itu… yang daunnya menjadi rusak karena tabung spesimennya aku pecahkan tadi pagi hingga Ayah marah padaku.

“Tunggu dulu, Kak!” Segera kupungut setangkai besar daun pohon itu yang telah jatuh di tanah.

“Untuk apa kau membawa daun Mahoni sebanyak itu?” Rimba keheranan.

Aku tersenyum nakal. “Untuk kenang-kenangan.”

Tepat pada saat aku ingin mengucapkan perpisahan kepada Rimba, notebook-ku bergetar di dalam saku. Ibu mengirim pesan padaku agar cepat pulang. Ayah dan Ibu khawatir.

“Baiklah, sudah saatnya aku pulang, Kak Rimba” Sedih rasanya mengetahui bahwa kita akan segera berpisah dari kesenangan.

“Bukannya kita memang mau langsung pulang sekarang?” Rimba bingung. “Mungkin akan mampir sebentar ke rumah makan. Kita semua belum makan kan sejak tadi? Tapi takkan lama,kok”

Sebelum rimba meneruskan kalimatnya, secepat mungkin aku berlari ke balik pohon besar dan bersembunyi. Aku bergegas, menggenggam tangkai mahoni yang kuambil tadi erat-erat dan menekan tombol hijau pada notebook untuk pulang.

Cahaya biru muncul kembali. Sayup-sayup terdengar suara Rimba memanggil namaku, lalu menghilang. Aku telah kembali ke rumah.

“Galuh, maafkan Ayah telah marah padamu,” Ayah menyambutku dengan pelukan yang sangat erat.

“Maafkan Galuh juga, Ayah.”

Kuserahkan setangkai daun mahoni yang kuambil tadi. “ Ini untuk Ayah. Sekarang Galuh mengerti mengapa Ayah marah. Ayah tak ingin Galuh tidak mendapat warisan kekayaan alam, kan?”

“Ayah selalu teringat pesan kakekmu saat beliau belum belum meninggal. Ayah selalu khawatir tidak bisa memenuhi janji kepada kakekmu. Baguslah kamu mengerti, Galuh.” Ayah terharu dan memelukku sekali lagi lebih erat. Sampai-sampai Fotoku bersama Rimba tak sengaja jatuh ke lantai.

Ibu dengan sigap mengambilnya. Tetapi kemudian beliau tercengang.

“Dari mana kamu dapat foto kakek dan nenek ini, Galuh?” tanya ibu penasaran.

Apa? Kakek dan nenek? Yang benar saja.

“Lihat foto ini. Kamu mirip sekali dengan nenekmu saat masih muda. Dulu sebelum nenekmu meninggal, beliau berpesan agar kamu diberi nama Galuh seperti namanya. Orang yang disebelahnya adalah Kakek Rimba,” jelas Ayah sambil tersenyum.

Aku bagai disambar petir berkekuatan 100.000 volt! Ternyata orang yang kusukai adalah kakekku sendiri!

Pantas saja Ia tahu namaku… (ryn/03)

· Pernah diterbitkan di buletin Nukleus, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s