2.8

Standar

Macet tak bisa dicegah. Sekarang sudah pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Itu artinya Arul sudah terlambat dan nggak bakal diizinkan masuk oleh satpam dan guru piket di gerbang meskipun sudah mengajukan berbagai alasan dari yang logis sampai yang tidak masuk akal sama sekali. Sebenarnya malas juga ikut pelajaran fisika soalnya Pak Ahmad lebih senang menceritakan pengalamannya dulu ketika perjuangan kemerdekaan ketimbang menyampaikan materi. Hanya saja lantaran sering ditegur Bu Dini, wali kelas 2.8, karena selalu bolos pelajaran fisika, akhirnya Arul mencoba menurut.

Benar saja, sesampainya di sekolah gerbang sudah ditutup. Meskipun begitu bukan berarti harus pulang. Arul punya siasat lain untuk dapat masuk, memanjat tembok tua di samping sekolah. Dengan susah payah Arul memanjat, akhirnya ia berhasil juga memijakkan kembali kakinya di tanah. Napasnya memburu seiring berlari menuju kelas. Jangan-jangan Pak Ahmad sudah mengajar, pikirnya.

Sampailah Arul di depan pintu kelas dan pada saat yang sama seluruh isi ruang tesebut riuh menyambut kedatangan Arul.

Arul segera menghampiri Pak Ahmad yang wajahnya sama sekali tidak ada manis-manisnya. “Maaf Pak, saya terlambat.”

“Dari mana saja kamu? Kamu tahu ini jam berapa?” tanya Pak Ahmad sangar.

“Gimana, Rul? Sudah kenyang sarapannya?” celetuk Egi.

“Eh, ada saus tuh di pipi!” timpal Toto,Iqbal dan Nda’ yang duduk di deretan belakang.

“Iya, kenyang! Besok sarapan di warteg Bu Barokah lagi, ah!” jawab Arul sekenanya sembari mengelus-elus perutnya. Tawa pun meledak dari 39 siswa yang lain. Kelas menjadi semakin ribut dan kacau. Sebenarnya teman-teman sekelas tahu bukan itu alasan sebenarnya mengapa Arul sampai terlambat ke sekolah. Tapi memanasi Pak Ahmad memang asyik. Tidak hanya Pak Ahmad saja, guru lain pun banyak yang dijahili.

Pak Ahmad kelihatannya sudah naik pitam. Wajahnya memerah dan matanya melotot. “Kalian semua diam!” Suaranya menggelegar dalam dialek khas Madura.

Spontan semua menutup mulut. Gawat, ini bukan yang pertama kalinya Pak Ahmad marah di kelas karena bukan pertama kalinya juga beliau dibuat marah.

“Arul, Bapak sudah tidak bisa menoleransi kelakuan kamu lagi! Sekarang kamu tunggu di luar sampai pelajaran bapak selesai!” beliau menngarahkan telunjuknya ke pintu. “Dan jangan bikin ulah!”

Arul menurut dan berjalan ke luar. Tapi sebelumnya tak lupa ia memamerkan cengiran bahagia kepada teman-temannya. Bebas fisika lagi, hehehe…

Di suatu siang yang cerah para guru sedang mendiskusikan pengalaman mengajarnya dalam beberapa hari ini. Kelas 2.8 yang nakal dan tidak pernah serius menjadi hot shot hari itu. Ternyata memang ada banyak keluhan dari banyak guru yang pernah mengajar di 2.8.Sampai-sampai Bu Dini, sang wali kelas, migrainnya kumat.

“Apalagi yang namanya Nda’ dan kawannya, Oling. Uuuh… nakalnya bukan main! Ngobrol terus di kelas,” kata Bu Nunung gemas.

“Arul tuh, kalau saya sedang mengajar dia selalu ikut menimpali macam-macam dari yang ada hubungannya dengan pelajaran sampai yang ndak ada hubungannya dengan pelajaran. Saya jadi bingung menanggapinya ,” keluh Bu Supiah guru Biologi asal Solo. “Terus terang saja saya sudah tidak tahan lagi…”

Bu Dini jadi kelabakan berusaha menenteramkan hati para guru yang sudah hancur itu akibat ulah anak-anak didiknya. Kalau keadaannya begini terus, bisa-bisa guru-guru mogok mengajar di kelas 2.8. Bu Dini menjadi bingung. Sebenarnya dia sudah pernah mencoba berbicara dengan anak-anaknya mengenai etika dan tata krama. Tapi… hasilnya sama saja. Alasannya bosan cara belajar dengan cara yang begitu-begitu saja. Susah!

Tiba-tiba Pak Ahmad angkat bicara. “Saya bukannya ingin menakut-nakuti, tetapi kita sendiri kan tahu gedung sekolah kita ini kan bekas bangunan milik penjajah dulu. Kebetulan kelas 2.8 tempatnya di pojok. Kata orang di pojokan itu banyak… penunggunya… Mungkin karena itu 2.8 anaknya pada bandel!”

“Hush! Ah, jangan ngaco, Pak!” Bu Nunung berjengit.

“Yah, itu mungkin saja… “ kata Pak Abdul ragu.

“Bagaimana kalau kita cari orang pintar supaya penunggu di kelas itu diusir?” usul Pak Ahmad.

Beberapa guru tidak setuju dan menolak usul itu. “Apakah harus dengan orang pintar?”

“Biar saya yang mengurus. Saya punya kenalan orang pintar. Kita minta dia saja.”

“Terserah bapak saja…” Guru lain menghela napas panjang. Diskusi akhirnya bubar.

Di balik pintu kantor, Ulli yang tidak sengaja melewti kantor mengangguk-angguk dan tersenyum jahil. Ada berita besar, nih, buat teman-teman…

Tibalah saatnya waktu yang telah ditentukan oleh Pak Ahmad dan orang pintar yang lebih cocok disebut dukun untuk mengusir penghuni kelas 2.8 yang kabarnya membuat anak-anak menjadi nakal. Dukun yang datang bersama Pak Ahmad namanya Karso. Asalnya dari Cikukur, desa yang amat jauuuhh… sekali. Orangnya terlihat tua, sekitar enam puluh lima tahunan. Kumisnya panjang dan berpakaian hitam-hitam seperti dukun pada umumnya.

Pak Ahmad dan Pak dukun berjalan bersama menuju kelas pukul 9 malam itu.

“Inilah tempatnya, Eyang,” tunjuk Pak Ahmad.

Pak dukun hanya mengangguk-angguk saja sambil melihat sekeliling ruangan. Gelap, sepi dan seram. Sedetik Pak Dukun bergidik. Takut. Payah juga dukun ini rupanya. Secepat mungkin Pak dukun menunjukkan lagi image jantannya. Malu kalau Pak Ahmad melihatnya.

“Kita mulai, Eyang?”

“Mari.”

Mereka berdua duduk berhadapan. Kemudian pak dukun memulai jampi-jampinya.

“Cing… ciripit! Tulang bajing… keje…” baru kalimat pertama Pak dukun berhenti. Ada suara krasak-krusuk dari sudut kelas.

“Ada apa?” tanya Pak Ahmad ingin tahu.

“Suara apa itu?”

Sreek… sreek… kresekk…

Bunyinya takk terlalu jelas. Sudut mata pak Ahmad ikut mengawasi arah sumber suara. “Kucing kali, Yang,” bisik Pak Ahmad.

Lalu pak dukun pun memulai kembali jampi-jampinya yang tadi terpotong. Semakin lama mantranya semakin rumit. Kata-katanya semakin tak bisa ditangkap pendengaran Pak Ahmad. Pak Ahmad penasaran, kemudian melihat ke sekeliling ruangan. Tak terjadi apa-apa. Suasananya masih sama seperti saat mereka datang.

Sudah hampir setengah jam, pak dukun masih asyik komat-kamit. Pak Ahmad kesemutan menunggu lama-lama sambil berjongkok. Tak terjadi apapun. Pak Ahmad menguap lebar.

Ternyata suara misterius tadi terdengar lagi. Bahkan semakin jelas. Pak dukun terkejut. Mantranya berhenti lagi.

Tiba-tiba dari arah depan muncul bayangan putih yang berterbangan. Pak dukun tersentak. Matanya membelalak ngeri. Kemudian muncul lagi bayangan putih lain dari arah yang lain.

“Hi…hihihihihi…” hantunya tertawa dalam lengkingan panjang.

“Siapa kamu? Jangan ganggu aku!” Pak dukun memperingati.

“Aku penghuni kelas ini, hi… hihihihihi,” kata sang hantu. “Pergi kalian! Atau kucekik sampai mati, hi…. hihihihihi…”

Wah, ini hantu beneran! batin pak dukun. Nyalinya langsung ciut. “Maaf Pak, saya ndak berani!!” Segera ia mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit meninggalkan kelas.

Pak Ahmad melongo. Kepalanya dipenuhi tanda tanya, mengapa dukunnya malah kabur?

“Hai, Ahmad! Kau masih belum pergi juga? Kau mau kucekik sampai mati, hah?”hantunya bersuara lagi.

Wajah Pak Ahmad pias. “Tidak! Jangan!!” Pak Ahmad ikut kabur berlari menyusuri koridor menyusul pak dukun.

“Yes, berhasil!” Toto, otak dari kenakalan ini, berteriak gembira penuh rasa kemenangan. Bayangan-bayangan putih tadi segera berubah menjadi Ulli, Tia dan Oling.

“Panas juga, ya pakai kostum hantu? Seprei siapa sih ini? Bau banget!” sungut Oling.

Orang yang tadi bersembunyi bermunculan dari tempat-tempat gelap. Sepuluh orang jumlahnya.

“Tadi lihat wajah Pak Ahmad ngga? Pucat! Hahaha… Makanya jangan sampai main dukun segala. Bisa kualat, dosa!”

“Dukunnya ternyata pengecut! Baru segitu saja sudah kabur?” kata Iqbal.

“Dukun itu kan tinggal di dekat rumahku. Yang tinggal di daerah rumahku juga tahu kalau dia itu dukun gadungan,” jelas Toto.

“Pak Ahmad salah manggil orang dong?”

“Tapi jadi seru, kan?”

“Semoga Pak Ahmad sadar dan dengan begitu kita bisa belajar fisika lebih baik, betul tidak?” kata Ulli.

“Betul!!!” sahut anak-anak yang lain serempak.

“Memangnya kita nakal banget, ya? Sampai-sampai manggil dukun segala..” Mia merenung.

“Ya, mungkin,” jawab Toto. “Tapi itu bukan sepenuhnya salah kita, kita hanya bosan dengan cara belajar yang begitu-begitu saja. Tapi hari ini, kita memang nakal banget ngerjain pak dukun sampai lari terkencing-kencing.”

“Jadi kita insyaf, nih?” Arul mengetes.

Yang lain saling tatap. Ada kilatan mata di sana. “Tentu tidak!” mereka serempak menjawab.

Tawa meledak memecah keheningan malam di sekolah. Tidak ada yang mau kehilangan masa mudanya sia-sia tanpa melakukan sesuatu yang akan di kenang di masa tua. Benar-benar bahagia di masa muda, tentunya dengan kenakalan yang positif.

Kelas 2.8 yang kompak itu masih tertawa bersama mengenang kejadian beberapa menit yang lalu. Hingga pada suatu saat…

“Hai anak-anak nakal, sedang apa kalian di sini? Hi… hihihihihi,” sebuah bayangan halus yang nyaris kasat mata melayang di udara.

Semua bulu kuduk menjadi tegang seketika, tengkuk pun terasa dingin. Perlahan-lahan mereka menoleh ke asal suara dan…

“Hwaaaa!!!!! Hantu beneran! Lariiiii!!!” (ryn/03)

Pernah ditebitkan di Majalah Visi Pelajar Indonesia, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s