“Kenapa Ayah lebih mementingkan tumbuhan-tumbuhan itu dari pada aku?” sungutku.
“Galuh, apa maksudmu? Spesimen itu sangat penting bagi kelangsungan hidup kita, hidup manusia nanti!”
Perasaanku semakin tak tertahankan lagi melihat Ayah membentak dan hampir menamparku. “Baiklah, mungkin sebaiknya Galuh menyingkir dulu dari sini sampai pekerjaan Ayah dengan tumbuh-tumbuhan itu selesai.” Tekadku sudah bulat. Segera kutekan tombol merah di atas keyboard.
“Galuh, mau ke mana kau, Nak?” Ayah berlari hendak menahanku. Namun terlambat. Cahaya biru telah memenuhi ruangan dan… aku tidak berada di rumah lagi. (More …)













