Arsip Tag: Cerpen

Sehari Bersama Rimba

Sehari Bersama Rimba

“Kenapa Ayah lebih mementingkan tumbuhan-tumbuhan itu dari pada aku?” sungutku.

“Galuh, apa maksudmu? Spesimen itu sangat penting bagi kelangsungan hidup kita, hidup manusia nanti!”

Perasaanku semakin tak tertahankan lagi melihat Ayah membentak dan hampir menamparku. “Baiklah, mungkin sebaiknya Galuh menyingkir dulu dari sini sampai pekerjaan Ayah dengan tumbuh-tumbuhan itu selesai.” Tekadku sudah bulat. Segera kutekan tombol merah di atas keyboard.

“Galuh, mau ke mana kau, Nak?” Ayah berlari hendak menahanku. Namun terlambat. Cahaya biru telah memenuhi ruangan dan… aku tidak berada di rumah lagi. Read the rest of this entry

2.8

2.8

Macet tak bisa dicegah. Sekarang sudah pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Itu artinya Arul sudah terlambat dan nggak bakal diizinkan masuk oleh satpam dan guru piket di gerbang meskipun sudah mengajukan berbagai alasan dari yang logis sampai yang tidak masuk akal sama sekali. Sebenarnya malas juga ikut pelajaran fisika soalnya Pak Ahmad lebih senang menceritakan pengalamannya dulu ketika perjuangan kemerdekaan ketimbang menyampaikan materi. Hanya saja lantaran sering ditegur Bu Dini, wali kelas 2.8, karena selalu bolos pelajaran fisika, akhirnya Arul mencoba menurut. Read the rest of this entry