Arsip Kategori: Lingkungan

Belajar dari Saudara Dekat

Belajar dari Saudara Dekat

Saat melihat-lihat kembali apa yang ada di My Document, ada pengalamanku yang boleh juga dipublish di sini. Meskipun sudah lama (tahun 2010) tapi masih bisa bermanfaat sebagai penambah pengetahuan. Sebelumnya artikel ini sudah pernah dimuat di buletin Proses (untuk kalangan Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat).

Hari ini, Rabu (28/08) pukul 02.30 dini hari kami bertiga duduk menanti bis yang hendak mengantar kami ke Jakarta. Tujuan kami sebenarnya adalah Kota Pahlawan, Surabaya.

Misi utama dari perjalanan ini adalah untuk mempelajari kesusksesan Sanimas dari teman-teman kami di Satker PPLP Provinsi Jawa Timur. Kami disambut dengan ramah dan hangat oleh Ibu Ima, Bapak Zazuri dan Bapak Sawali serta Bapak Basri dari Bina Ekonomi Sosial Terpadu (BEST) di Pintu Kedatangan Pelabuhan Udara Juanda, Surabaya. Rintik hujan terus menyertai hingga mobil yang kami tumpangi melesat menuju lokasi Sanimas pertama, Mojokerto.

Hujan baru saja reda ketika Kami tiba di gerbang masuk Kota Mojokerto. Di kota inilah lokasi Sanimas Margoratan berada. Sanimas yang merupakan MCK plus ++ ini, sudah dua tahun lamanya melayani warga sejak tahun 2008. Rombongan diterima oleh Ketua KSM yang mengelola Sanimas Margoratan.

Bangunan yang berdiri di tanah yang sangat subur, dengan luas lahan 50 m2 berkapasitas untuk penggunaan 350 orang per hari di Margoratan ini sangat indah dan rapi. Jelas terlihat bahwa bangunan ini sangat terawat dan terkelola dengan baik. Konsumen yang datang berasal dari lingkungan sekitar berjumlah 46 KK, dan semuanya memanfaatkan fasilitas ini dengan baik. Sanimas di lokasi ini terdiri dari bangunan atas berupa 6 toilet 2 kamar mandi dan 1 unit tempat cuci, serta bangunan bawah berupa septiktank komunal bersusun yang berfungsi sebagai IPAL. Melihat kondisi topografi lahan yang cenderung datar maka tidak ada perpipaan dari rumah-rumah penduduk yang memungkinkan untuk dibangun dan disambungkan ke IPAL tersebut.

Nilai tambah fasilitas ini adalah adanya konstruksi biogas digester yang memungkinkan dihasilkannya gas bahan bakar. Saat ini baru tiga rumah yang memanfaatkannya.

Lokasi kedua adalah Sanimas di Sidoarjo. Tak jauh berbeda dengan Di Mojokerto, Sanimas Cucung berbinar pun tampak luar biasa di Desa Janti, Kecamatan Waru. Semuanya sangat bersih dan mengkilap. Jauh dari kesan kumuh dan bau. Saat kami berkunjung kesana, suasana siang hari sedang sepi. Kami disambut operator sanimas yang sigap sedang berkutat memperbaiki penampung air yang bocor. Sanimas ini berada di bawah pengelolaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Cucung Berbinar. Fasilitas sanimas tersebut menggunakan teknologi MCK plus ++ dan dijaga seorang operator bernama Djunaedi. Terdapat dua kampung yang dilayani, yaitu kampung Janti dan Kampung Cucung.

Sebelumnya warga sekitas melakukan aktivitas BAB di sungai. Beberapa sudah mempunyai jamban, tetapi saluran pembuangannya belum memenuhi standar. Dari 137 KK, hanya 25 KK yang memeliki jamban pribadi.Disebut MCK plus ++ memang karena terdapat tiga kelebihan. Pertama, pelayanan sanitasi untuk masyarakat, yaitu toilet, kamar mandi dan tempat cuci. Kedua menyediakan sarana air bersih dan ketiga ialah unit pengolahan limbah yang terintegrasi berada di bawah struktur MCK tersebut. Iuran untuk penggunaan fasilitas MCK plus ++ yang disepakati warga adalah Rp 500,00 untuk BAK atau BAB dan Rp 1.000,00 untuk cuci dan mandi. Setiap hari, setidaknya ada 50 sampai dengan 70 orang yang datang memanfaatkannya.

Ada banyak lagi yang menarik perhatian kami di Sidoarjo, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, fasilitas lengkap dengan hanggar yang besar untuk metoda pengomposan open windrow, dan pekerja yang sedang asik membutik. Sampah-sampah yang siap dipilah datang silih berganti menggunakan motor sampah. Pengemudinya datang sambil bersiul dan meminta kami untuk memoto mereka. Menyenangkan sekali.

Ternyata tingkat kebersihan dan pemahaman warga terhadap sanitasi meningkat seiring dengan pemanfaatan fasilitas sanimas. Kemudian atas berkat kerja sama dengan pemerintah, Borda dan BEST, dibangun pula fasilitas pengelolaan sampah pada tahun 2008 di lingkungan Janti. Namun pengelolaan fasilitas pengelolaan sampah tersebut dikelola oleh KSM yang berbeda, yaitu KSM Janti Berseri.

Sampah rumah tangga dikumpulkan dan pilah sesuai dengan jenisnya. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sedanngkan sampah plasti dicacah dengan mesin hingga 16m3 per hari.

Jika fasilitas MCK plus ++ melayani sekitar 122 KK, fasilitas pengelolaan sampah ini melayani sekitar 800 KK. Termasuk didalamnya warga perumahan Makarya Binangun. Iuran yang disepakati adalah Rp 5.000,- sampai dengan Rp 7.000,- per bulan.KSM telah memperkerjakan dan melatih 9 orang operator untuk pengelolaan sampah.

Begitulah. Provinsi Jawa Timur ternyata sudah selangkah lebih maju dari pada Jawa Barat. Kita harus punya optimisme bahwa kita pun akan bisa seperti itu. Bahkan lebih maju lagi. Sayangnya, kunjungan PLP Diskimrum Jabar  ke Provinsi Jawa Timur hanya sebentar. Keramahtamahan dan kemajuan disana membuat saya rindu. Betapa tidak, kami diantar berkeliling ke pelosok, diberikan banyak sekali informasi dan ilmu yang bisa dicoba di Jawa Barat serta dijamu masakan yang hommie, serasa makan di rumah sendiri. Sesaat kami akan pulang, kami bertanya-tanya, kapan kami akan berkunjung lagi. Kota Blitar yang kabarnya memiliki  Sanimas yang sukses belum sempat kami sambangi. Di sisi lain, kami pun berharap Provinsi Jawa Barat dapat meningkatkan cakupan pelayanan sanitasinya melalui Sanimas dengan kesuksesan yang sama.

Perpisahan kami di Bandara Juanda, diiringi ucapan terima kasih yang tak tergambarkan. Selamat tinggal, Surabaya!

Ada Asap, Ada Api

Ada Asap, Ada Api

SETIAP TAHUN 100.000 ANAK MATI KARENA DIARE

Di Indonesia, dari setiap seribu bayi yang lahir, hampir 50 diantaranya mati sebelum menginjak usia lima tahun. Menurut Departemen Kesehatan, diare merupakan salah satu penyebab utamanya.

Diare terjadi bila perut kita terinfeksi mikroba yang dibawa tinja. Tidak heran jika kasus ini banyak muncul di permukiman yang memiliki sarana sanitasi terbatas. Diare juga banyak menimpa orang-orang yang tidak memperdulikan perilaku hidup bersih dan sehat. Contoh, orang yang tidak mencuci tangannya dengan sabun setelah buang air besar. Anda peenah melihat anak kecil sedang buang air besar di selokan? Itulah contoh lain dari perilaku yang menyebabkan seratus ribu anak mati setiap tahunnya.

SETIAP TAHUN HANYA 200 RUPIAH PER ORANG

Dalam 30 tahun terakhir,pemerintah hanya menyediakan sekitar 820 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk sektor sanitasi. Artinya, hanya ada 200 rupiah setahunnya untuk setiap penduduk Indonesia. Jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana sebenarnya 47 ribu Rupiah per orang per tahunnya!

Anggaran pemerintah untuksektor sanitasi memang sangatlah minim. Apabila kita bandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari 6 miliar dollar AS utnuk periode yang sama. Padahal untuk urusan kesehatan masyarakat, kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan yang erat.

Apakah jumlah anggaran sektor sanitasi yang kecil itu menjadi penyebab dari tingginya angka kematian anak balita tersebut? Menurutku, mungkin ya, mungkin juga tidak.

Bagaimana menurutmu?

(diambil dari “Ini Bukan Lagi Urusan Pribadi”, Water Sanitation Program 2006)

Kantung Plastik Sudah Ketinggalan Zaman

Kantung Plastik Sudah Ketinggalan Zaman

Rasa-rasanya plastik telah menjadi bagian penting hidup kita. Manusia selalu menuntut kemudahan dalam segala aspek kehidupan. Yang dimaksud kemudahan itu antara lain kekuatan, fleksibilitas, massa yang ringan, tahan air, sarana promosi efektif serta pakai-langsung-buang dalam satu produk. Dan kemudahan tersebut disediakan oleh suatu polimer karbon bernama “plastik”.

Sejak bangun pagi kita mendapat ucapan selamat pagi dari barang-barang di kamar kita yang terbuat dari plastik. Sambil mandi, kita akan berterima kasih atas penemuan “gayung” plastik yang sangat berguna. Pada akhirnya badan kita pun dibalut pakaian trendi berbahan polyester. Bayangkan saat sarapan, belanja, masak, bikin tugas sekolah, menyiram tamanan, bahkan duduk pun kemungkinan Anda di atas kursi plastik. Tidak terbayang bukan berapa jenis dan banyaknya jumpah plastik yang terpakai?

Tentunya semua plastik itu suatu saat akan disingkirkan ke tempat sampah. Berdasarkan penelitian saya tahun 2008 lalu, sebuah kota berkembang di Jawa Barat menimbulkan 1,13 ton/hari sampah plastik atau setara dengan 15,8% dari total sampah kota tersebut. Dan hanya kurang dari 3% yang selama ini didaur ulang oleh orang-orang hebat berinisiatif. Bayangkanlah, jumlah sampah plastik yang masuk ke TPA selama sebulan, setahun, sedasawarsa… Ngeri ngga, tuh?

Sampah platik yang jumlahnya besar itu, ternyata didominasi oleh 32,25% kantung plastik (kresek). Sedangkan sisanya merupakan sampah plastik jenis lain dalam persentase yang lebih kecil. Fakta ini membawa kita pada suatu tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap sampah plastik terutama kantung plastik yang kerap menjadi favorit kita saat berbelanja. Kita sebagai pengguna, bertanggung jawab secara pribadi terhadap sampah yang kita buang. Meskipun sebenarnya produsen pun harusnya punya andil lebih besar. Pasti ada yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya. Jangan hanya berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah karena tidak becus menangani masalah sampah.

Mulai dari sekarang kurangilah penggunaan kantung plastik. Mungkin kita tidak bisa menerapkannya sekaligus tetapi secara bertahap. Mulailah membawa kantung/keranjang belanja sendiri dari bahan kain belacu, karung, kain bekas atau sebagainya. Kelihatannya sepele, bagaimana mungkin satu orang akan membuat dampak yang berarti. Percayalah, semua itikad baik akan dihargai dan diikuti pada akhirnya. Dan kantung plastik akan segera ketinggalan zaman, out of date

Bagaimana menurutmu, teman?

Membuat Kompos Dalam Pot

Membuat Kompos Dalam Pot

Setelah beberapa saat yang lalu menampilkan posting pembuatan kompos dengan metode karung dan keranjang takakura, posting kali ini akan membahas metode yang berbeda. Mudahnya, cara ini disebut metode pot.

Pada prinsipnya pembuatan kompos dengan metode pot mirip dengan kompos metode lain. Prosesnya tetap melibatkan aktivitas mikroorganisme secara aerobik yang memanfaatkan limbah padat organik sebagai sumber energi.

Sesuai dengan namanya, cara ini membutuhkan pot. Pot yang dipakai paling tidak berdiameter 25 cm. Pota dapat terbuat dari bahan plastik atau pun gerabah. Yang penting, pada bagian dasar pot terdapat lubang-lubang kecil yangbberfungsi sebagai tempat sirkulasi udara. Jika pot tersebut tidak memiliki lubang, maka pembuatan lubang harus dibuat sendiri menggunakan bor atau alat lain.

Alat dan bahan yang dibutuhkan, antara lain:

a)      Pot, dasarnya diberi lubang-lubang kecil.

b)      Kerikil

c)       Pasir

d)      Kapur

e)      Sampah organik yang telah dipilah, dibersihkan dan dicacah.

f)       Tanah

g)      Sekop kecil

Cara pengerjaan:

a)      Masukkan kerikil ± 4 cm ke dalam pot.

b)      Masukkan pasir ± 3 cm pasir di atas kerikil.

c)       Masukkan tanah 5 cm.

d)       Masukkan sampah organik, jangan terlalu tebal.

e)      Tutup dengan kapur dan kotoran ternak jika ada.

f)       Tutup atasnya dengan tanah lagi.

Mudah kan? Jika ingin menambahkan sampah lagi tinggal letakkan saja diatasnya dan ulangi langkah c sampai f. Penambahan sampah dapat dilakukan sampai pot penuh. Jangan lupa, selama proses kompos berlangsung tanahnya harus dijaga agar kelembabannya tetap. Tidak boleh terlalu kering atau basah dan diaduk beberapa kali.

Happy composting!

Keranjang ‘Ajaib’ Takakura

Keranjang ‘Ajaib’ Takakura

Hello!

Ternyata kompos dapat sambutan lebih di blog ini. So, untuk beberapa orang bertanya bagaimana cara buat kompos sederhana selain metode karung, mungkin bisa mencoba yang ini.

Keranjang Takakura

Oke, yang ini adalah teknologi pembuatan kompos yang ditemukan Bapak Takaura dari Jepang. Metode ini diperoleh dari hasil penelitian, dan sudah diuji coba dengan hasil memuaskan.

Keranjang Takakura punya beberapa kelebihan dibandingkan dengan komposter lain.

  1. Tidak bau dan mengundang lalat.
  2. Dapat ditempatkan didalam rumah (tapi sebaiknya nggak ditempatkan di ruang makan atau kamar tidur, ya…).
  3. Dapat digunakan selama beberapa minggu tanpa mengeluarkan isinya sampai dengan kompos matang. Dengan keranjang ajaib ini, komposter akan lebih lama penuh karena sampah organik cepat susut.
  4. Mudah, bersih dan  praktis.

Untuk memulainya ita memang butuh ekstra modal untuk alat dan bahan. Tapi jangan khawatir, kalau kita reatif, semuanya akan jadi mudah. Setuju?!

Nah, bahan dan alat yang dibutkan untuk membuat “Keranjang Ajaib” ini adalah

  • keranjang plastik yang tepinya berlubang (maksudnya mempunyai rongga-rongga udara di sekelilingnya). Buat lubang-lubang kecil di bagian dasarnya sebagai rongga udara.
  • kardus bekas untuk menutup dasar, dan sisi-sisi keranjang.
  • sekam atau sabut kelapa. Sekam/sabut tersebut dimasukkan ke dalam kain berpori seperti kain untuk mengukus nasi dan bentuk seperti bantal sesuai ukuran dasar keranjang. Buat dua buah.
  • kompos yang sudah jadi 1/5 tinggi keranjang, untuk starter.
  • sampah dapur/sampah halaman yang sudah dipilah dan dipotong kecil-kecil.

Cara membuatnya

Sketsa Keranjang Takakura

Sketsa Keranjang Takakura (klik untuk perbesar)

  • Masukkan kardus bekas di dasar dan sekeliling keranjang plastik.
  • Masukkan satu bantal sekam/sabut kelapa (dasar keranjang-kardus-bantal sekam).
  • Kemudian masukkan kompos yang sudah jadi.
  • Masukkan sampah organik yang telah dipilah dan dipotong kecil-kecil di atas kompos.
  • Aduk setiap penambahan sampah organik di hari berikutnya.

Mudah kan? Oh ya, ada hal yang harus diingat. Sampah tulang, daging dan yang berbau menyengat tidak boleh dimasukkan dalam Keranjang Takakura, soalnya bisa bikin bau dan timbul lalat/belatung.

Oke deh, selamat mencoba ya?!

Anak-anak Luar Biasa di Kaki Gunung

Anak-anak Luar Biasa di Kaki Gunung

Tanggal 23 sampai dengan tanggal 26 Oktober 2008 lalu, saya pergi ke sebuah desa kecil di Kabupaten Kebumen, yaitu Desa Wonotirto. Desa ini terletak di kaki sebuah gunung di Jawa Tengah. Wono artinya adalah hutan, sedangkan tirto berarti air. Sehingga desa ini memiliki arti hutan tempat tersimpan air.

Misi utama dari perjalan ini adalah untuk memfasilitasi anak-anak Desa Wonotirto untuk mempelajari  bahaya pemanasan global, pendaurulangan kertas dan pengomposan sampah sederhana. Saya diundang oleh Mbak Alit, staf watsan dari Plan International untuk menjadi salah seorang fasilitatornya. Ternyata sambutan masyarakat Wonotirto sangat antusias dan ramah.

Anak-anak Wonotirto selesai membuat kompos

Anak-anak Wonotirto selesai membuat kompos

Diantara serba kekurangan yang dialami anak-anak desa, ternyata mereka punya semangat belajar yang besar. Saya jadi teringat novel karangan Andrea Hirata “Laskar Pelangi” tentang anak-anak Belitong yang berjuan untuk mengenyam pendidikan. Anak Desa Wonotirto tak kalah hebat. Mereka adalah anak-anak yang pandai meskipun pemalu layaknya anak desa.

Anak-anak Desa Wonotirto

Anak-anak Desa Wonotirto

Saya sendiri kaget karena ada anak dengan umur lima tahun yang sudah duduk di bangku kelas 1 SD sudah pandai membaca, menulis bahkan berhitung. Kalau di kota sih, biasa saja. Tapi kalau di desa, ini adalah suatu hal yang tidak biasa. Diantara, puluhan anak yang mengikuti kegiatan ini, sebagian tinggal di daerah Trenggulun, berkilo-kilo meter dari Desa Wonotirto. Setiap hari mereka sekolah berjalan kaki. Beberapa anak yang duduk di bangku SMP dan SMA sampai kerumah hingga pukul 7 malam. Wow…

Sayangnya, kunjunganku kesana hanya sebentar. Warga desa membuat saya rindu. Betapa tidak, saya dijamu masakan yang hommie, serasa makan di rumah sendiri. Sesaat aku akan pulang, anak-anak desa bertanya kapan mbak irni akan berkunjung lagi ke desanya. Bahkan ada yang meminta saya main ke rumahnya sebelum saya pulang. Terharu banget deh!

Yaaa… mudah2an Desa Wonotirto semakin maju. Dengan generasi mudanya yang pandai-pandai, Desa Wonotirto dapat menjadi lebih baikdan lebih mandiri di masa yang akan datang. Oke deh, Mbak Alit, ajak-ajak saya lagi ya ke Kebumen?!!

Lubang Resapan Biopori

Lubang Resapan Biopori

Ini dia bencana yang ada pada musim hujan: banjir, tanah longsor dan berkembangnya berbagai macam penyakit.

Nah, kita akan menbahas masalah banjir. Banjir disebabkan oleh meluapnya air yang ada di permukaan. Bisa jadi karena salurannya tersumbat atau debit air yang melaluinya terlampau besar. Banjir juga disebabkan semakin sedikitnya daerah resapan. Daerah resapan adalah daerah untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Saai ini banyak tempat yang dulunya tanah sudah berubah menjadi bangunan. Tanahnya tertutup semen, beton dan aspal. Air yang seharusnya bisa meresap ke dalam tanah, hanya tergenang.

Mau ikut menangani banjir? Read the rest of this entry

Jenis Plastik dalam Kehidupan Sehari-hari

Jenis Plastik dalam Kehidupan Sehari-hari

Saat ini plastik menjadi perbincangan hangat di seluruh penjuru bumi. Dari mulai bahannya yang sulit terurai sampai dengan racun yang dapat mengkontaminasi makanan atau minuman yang diwadahinya. Tapi sebenarnya plastik itu apa sih? Dan jenis-jenis plastik yang umum digunakan seperti apa? Berikut ini adalah cuplikan studi pustaka tugas akhir aku yang kemarin baru selesai tentang sampah plastik.

Bahan plastik merupakan materi yang terbentuk dari berbagai macam polimer dengan komposisi kimia dan struktur fisik yang berbeda-beda (Staudinger, 1974). Polimer-polimer ini adalah senyawa karbon yang berikatan dengan unsur hidrogen, klorin, oksigen, nitrogen dan flourin. Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk rantai yang sangat panjang. Bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama dalam suatu pola acak, menyerupai tumpukan jerami yang disebut amorf. Jika rantainya teratur hampir sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar (Syarief, dkk., 1989).

Jenis plastik yang utama terdiri dari polimer-polimer berikut (Staudinger, 1974 dan Tchobanoglous, 1993).

1. Thermoplastics

Monomer thermoplastic membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka akan terbentuk plastik thermoplastic yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik (reversible) kepada sifatnya yakni kembali mengeras bila didinginkan. Sifatnya yang dapat berubah bentuk pada perubahan suhu membuat plastik jenis ini dapat didaur ulang (Syarief, dkk., 1989). Berikut ini jenis-jenis thermoplastic (Staudinger, 1974).

(a)       Polyethylene (PE)

Terbentuk dari karbon dan hidrogen. Tersedia dengan berat jenis 0,91 sampai 0,96 g/cm3. Sifatnya relatif fleksibel sampai relatif kaku. Terdiri dari tiga bentuk yaitu yang berdensitas rendah LDPE (relatif fleksibel) dan berdensitas tinggi HDPE (relatif kaku) serta Polyetylene terephtalate (PET). PE digunakan untuk tas, karung, botol susu, botol pemutih, peralatan rumah tangga, krat,insulasi, tali plastik dan dudukan kabel telepon juga mainan anak-anak.

Menurut Nurminah (2002), plastik yang dapat dicetak atau plastik yang berbeda warna (contohnya biru di luar dan perak di dalam) merupakan plastik kemasan makanan jenis LDPE . Kemasan ini dibentuk dari LDPE baik yang terdiri satu lapisan maupun dua lapisan (double layers).

(b)      Polypropylene (PP)

Seperti PE, akan tetapi bisa lebih kaku dari PE yang paling keras. Biasanya dipakai sebagai kemasan yang sangat transparan untuk makanan, keripik, kudapan, biskuit, krat, furniture (kursi), komponen mobil, dan beberapa jenis karpet.

(c)       Polysterene (PS)

Terdiri dari karbon dan hidrogen. Berbentuk seperti busa atau keras dengan tingkat transparansi tinggi dan berbunyi seperti logam bila dijatuhkan. Contohnya gelas minum restoran cepat saji, tempat menyimpan telur, kotak disket, toples dan sebagainya.

(d)      Polyvinyl chloride (PVC)

Dapat dibuat sesuai kebutuhan, mulai dari fleksibel sampai dengan kaku. Biasa digunakan untuk membuat pipa, botol, perekam gromophone, komponen pengolahan air bersih, jas hujan, sol sepatu, insulator kabel dan sebagainya.

(e)   Lainnya

Thermoplastic jenis ini tidak termasuk dalam jenis thermoplastic di atas. Produksi jenis ini lebih sedikit dibandingkan thermoplastic lainnya dan dibuat hanya untuk kebutuhan khusus. Plastik lainnya terdiri dari acrylonitrile-butadine-styrene (ABS), acrylics, acetal, nylon, polycarbonate, polytetrafluoro-ethylene (PTFE) dan polyester (Staudinger, 1974). Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi.

2. Thermosett

Monomer thermosett berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik thermosett dengan sifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan thermoset melainkan akan membentuk arang dan terurai karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel dan asbak, seperti jenis-jenis melamine (Beck, 1970).

Plastik thermosett mengandung resin yang terbuat dari phenol dan formaldehide (karbon, hidrogen, dan oksigen), urea dan formaldehyde, serta campuran formaldehyde dengan melamine. Biasanya digunakan untuk komponen elektronika, soket dan komponen lain (Staudinger, 1974). Plastik jenis termoset tidak begitu menarik dalam proses daur ulang karena selain sulit penanganannya (tidak bisa dilelehkan) juga volumenya jauh lebih sedikit dari volume jenis plastik yang bersifat thermoplastic (Moavenzadeh dan Taylor, 1995).